menu

Lagu Wajib Nasional - • Kebyar Kebyar (Gombloh)



Kebyar Kebyar
Karya : Gombloh



Lirik Lagu Wajib Nasional - Kebyar-Kebyar :

Indonesia ...
Merah darahku, putih tulangku
Bersatu dalam semangatmu

Indonesia ...
Debar jantungku, getar nadiku
Berbaur dalam angan-anganmu

Kebyar-kebyar, pelangi jingga

Indonesia ...
Nada laguku, symphoni perteguh
Selaras dengan symphonimu


Kebyar-kebyar, pelangi jingga

Biarpun bumi bergoncang
Kau tetap indonesiaku


Andaikan matahari terbit dari barat
Kau pun indonesiaku


Tak sebilah pedang yang tajam
Dapat palingkan daku darimu


Kusingsingkan lengan
Rawe-rawe rantas
Malang-malang tuntas
Denganmu ...

Indonesia ...
Merah darahku, putih tulangku
Bersatu dalam semangatmu

Indonesia ...
Debar jantungku, getar nadiku
Berbaur dalam angan-anganmu

Kebyar-kebyar, pelangi jingga

Indonesia ...
Merah darahku, putih tulangku
Bersatu dalam semangatmu

Indonesia ...
Nada laguku, symphoni perteguh
Selaras dengan symphonimu


Not angka  Lagu Wajib Nasional - Kebyar-Kebyar :






Vidio Lagu Wajib Nasional - Kebyar-Kebyar :






Biografi singkat - Gombloh : 

Gombloh (lahir di Jombang, 14 Juli 1948 – meninggal di Surabaya, 9 Januari 1988 pada umur 39 tahun) adalah seorang penyanyi Indonesia. Ia dilahirkan dengan nama asli Soedjarwoto Soemarsono di Kota Jombang.

Gombloh dilahirkan sebagai anak ke-4 dari enam bersaudara dalam keluarga Slamet dan Tatoekah. Slamet adalah seorang pedagang kecil yang hidup dari menjual ayam potong di pasar tradisional di kota mereka. Sebagai keluarga sederhana, Slamet sangat berharap agar anak-anaknya dapat bersekolah setinggi mungkin hingga memiliki kehidupan yang lebih baik.

Gombloh menyelesaikan pendidikan sekolah di SMA Negeri 5 Surabaya dan sempat berkuliah di Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember, (ITS) Surabaya, namun tidak diselesaikannya dan memilih menuruti nalurinya untuk bermusik.

Gombloh pada kenyataannya tidak pernah berniat kuliah di ITS, ia melakukannya karena kasihan dengan orang tuanya. Ia sering membolos dari kampus teknik yang terkenal dengan disiplin terketat di Indonesia itu. Kelakuannya ini akhirnya diketahui ayahnya setelah Slamet mendapat surat dari ITS yang memberikan peringatan.

Gombloh bereaksi dengan menghilang ke Bali dan bertualang sebagai seniman. Jiwanya yang bebas tidak dapat dikekang oleh disiplin yang ketat dan kuliah yang teratur. Walau tidak memiliki gelar akademik dari ITS, Gombloh dipandang sebagai sosok yang memberi jiwa kemanusiaan, kebangsaan, dan kemanusiaan oleh para mahasiswa alumnus ITSSurabaya hingga kini.

Gombloh meninggal dunia di Surabaya pada 9 Januari 1988 setelah lama menderita penyakit pada paru-parunya. Kebiasaan merokoknya sulit dihilangkan dan ia dikabarkan sering begadang. Menurut salah seorang temannya, beberapa waktu sebelum meninggal, sering kali Gombloh mengeluarkan darah bila sedang bicara atau bersin.

Pada 1996 sejumlah seniman Surabaya membentuk Solidaritas Seniman Surabaya dengan tujuan menciptakan suatu kenangan untuk Gombloh yang dianggap sebagai pahlawan seniman kota itu. Mereka sepakat membuat patung Gombloh seberat 200 kg dari perunggu. Patung ini ditempatkan di halaman Taman Hiburan Rakyat Surabaya, salah satu pusat kesenian di kota itu. Pada tanggal 30 Maret 2005 dalam acara puncak Hari Musik Indonesia III di Jakarta, Gombloh mendapat penghargaan Nugraha Bhakti Musik Indonesia secara anumerta dari PAPPRI, bersama sembilan tokoh musik lainnya

Lagu-lagu karya Gombloh sempat diangkat dalam penelitian Martin Hatch seorang peneliti dari Universitas Cornell dan ditulis sebagai karya ilmiah yang berjudul "Social Criticsm in the Songs of 1980’s Indonesian Pop Country Singers", yang dibawakan dalam seminar musik The Society of Ethnomusicology di Toronto, Kanada pada 2000.




No comments:

Post a Comment